Posted by: rajaplagiat | August 22, 2010

Kedaulatan Informasi Telekomunikasi Indonesia Di bawah Ketiak Singapura

Kedaulatan Informasi Telekomunikasi Indonesia Di bawah Ketiak Singapura

Pesatnya kemajuan teknologi komunikasi  dan bisnis telekomunikasi membawa dampak yang luar biasa di muka bumi ini.  Siapa yang paling berkuasa di dunia adalah negara yang paling maju dalam teknologi dan mampu menguasai bisnis telekomunikasi.  Hal ini mulai tampak dari kekewatiran beberapa ahli komunikasi dan politikus yang sudah mulai mempermasalahkan sistem telekomunikasi di Indonesia. Sebagai Negara Berdaulat, ternyata Indonesia harus tunduk dan dibawah ketiak Singapura. Dominasi bisnis telekomunikasi  Singapura di indonesia ternyata tanpa disadari mengancam kedaulatan di bidang teknologi informasi (TI). Saat ini RI sebagai Negara Berdaulat, ternyata tidak berdaulat di ranah Informasi Teknologi`.  Bahkan RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan.   Dalam bisnis di bidang  IT, Indonesia hanya jadi ladang mencari keuntungan oleh Singapura dan Malaysia, dengan berbagai dampka yang belum disadari. Seharusnya masalah ini menjadi prioritas utama bagi pemerintah dalam waktu dekat.

Hal ini terjadi  karena semua operator seluler dan internet berbasis di dua negeri tetangga tersebut. Akibatnya,  setiap nilai ekonomi bisnis telekomunikasi berupa  pulsa,  penggunaan internet, atau bentuk telekomunikasi lainnya secara ekonomi lebih dominan tersedot ke dua negara tersebut. Yang lebih mengkawatirkan bila Indonesia tidak cermat, bisa saja berbagai rahasia negara dapat engan mudah dikonsumsi berbagi pihak di negara tersebut. Bidang telekomunikasi tersebut  yang dimaksud, tidak hanya meliputi meliputi berbagai data “voice” dan berbagai data khusus lainnya. Indonesia  memang sudah ketinggalan dalam hal kemajuan dan penguasaan teknologi untuk berbagai aspek, utamanya di sektor teknologi informasi (TI). Kekhawatiran ini terus memuncak, apalagi banyak operator seluler dan internet kita memang dikendalikan dari dua negara itu.Banyak pihak yang sepertinya belum menyadari urgennya menguasai TI, terutama terkait dengan urusan RHN, maupun bisnis bernilai miliaran dolar.

Singapura Kendalikan Jaringan

Beberapa ahli dan pengamat telekomunikasi sudah mengeluarkan opini bahwa bahwa RI benar-benar semakin didikte Singapura dan Malaysia dalam hal telekomunikasi di samping perbankan.  Saat ini nyatanya lalulintas jaring optik kita dikendalikan oleh `traffic administrator` di Singapura. Karenanya semua jaringan internet dan seluler harus ditarik atau `dipaksa` melewati `persimpulan utama` di kota itu. Makanya, apalagi `RHN` yang tak mereka tahu. Sedangkan, satelit Indosat (dulu Palapa) jadi mayoritas milik Temasek (sebuah BUMN Singapura),” ungkapnya lagi. Akibatnya, lanjutnya, selain kita jadi seperti `telanjang` dalam informasi apa pun, juga RI cuma berfungsi sebagai pelanggan seluler.Posisi ini jauh di bawah fungsi distributor seluler. Jadi, kita cuma `outlet`, tukang jual produk IT mereka. Dan yang jelas, banyak perusahaan provider Indonesia hanya nama  perusahaannya milik Indonesia tetapi mayoritas saham dikuasai Singapura.

Berbagai pakar komunikasi dan politikus mengatakan bahwa pemerintah jangan cuma sibuk urus video porno dan konten TI, lalu tidak berjuang agar semua operator berbasis di sini. Mohon ini digumuli dan jadi atensi seius. Argumentasi para pakar TI itu terkesan bukan main-main, dan tidak berangkat dari argumentasi emosional, tetapi sangat rasional. Demi martabat dan kedaulatan NKRI, perlu segera tindakan konkret dan perbaikan ke depan secara bersama. Kami di Komisi I DPR RI tentu akan melaksanakan fungsi kewenangan kami sesuai aturan konstitusi.

Kasus ini sedari awal mendapat banyak sorotan dan dinilai kontroversial karena menyangkut investor asing dan karena kepemilikan silang Temasek sedikit banyak terjadijuga akibat kecerobohan pemerintah  sendiri. Pemerintah meloloskan Temasek dalam divestasi Indosat, padahal saat itu Temasek sudah menguasai 35 persen saham Telkomsel. Temasek sudah mendapat jaminan dari pemerintah saat akan membeli saham Indosat,  bahwa aset yang akan mereka beli waktu itu sudah clean dan clear (tidak bermasalah). Menurut Temasek, KPPU sendiri bahkan sudah  memberi persetujuan terhadap divestasi Indosat tersebut, meskipun hal ini dibantah KPPU.

Monopoli di negara lain

Di AS, kewenangan merger dan akuisisi harus berdasarkan pada Pasal 7 Clayton  Act. Pasal itu melarang setiap tindakan yang mengarah pada aktivitas memengaruhi pasar sehingga mengakibatkan rusaknya persaingan  atau berpotensi menciptakan monopoli. Sherman Act pun jelas melarang segala tindakan monopoli bahkan yang mengarah  kepada monopoli, atau dapat dikatakan monopolisasi yang sengaja diciptakan. Monopoli dalam pembahasan tersebut didefinisikan sebagai kekuasaan untuk  mengontrol harga pasar atau meniadakan pesaing lain.

Di AS dan Uni Eropa, praktik monopoli dan persaingan usaha diatur dengan  undang-undang yang ketat. Kalau mengacu pada aturan di AS dan Uni Eropa, dalam kasus kepemilikan silang terhadap Telkomsel dan Indosat  oleh Temasek telah terjadi kepemilikan silang mengarah kepada monopoli yang ujung-ujungnya menciptakan suasana antipersaingan di pasar  telekomunikasi Indonesia. Tetapi, apakah hukum persaingan usaha di Indonesia sama dengan di Uni Eropa dan  AS? Ini yang masih menjadi topik perdebatan. Akibat soal kepemilikan silang itu, Temasek dituding juga telah mendalangi  konspirasi pasar antara Indosat dan Telkomsel.

Dominasi Singapura Dalam  Bisnis Telekomunikasi

Pada akhir tahun 2002 divestasi Indosat yang dimenangkan oleh STT, anak perusahaan yang sahamnya 100% dikuasai oleh Temasek, menyebabkan industri telekomunikasi seluler di Indonesia mengalami struktur  kepemilikan silang. Hal ini disebabkan karena sebelum divestasi tersebut, saham Telkomsel yang merupakan operator seluler terbesar di Indonesia telah dimiliki oleh Temasek melalui anak perusahaannya yaitu Singtel dan SingTel Mobile, sehingga secara tidak langsung Kelompok Usaha Temasek telah menguasai pasar seluler Indonesia dengan menguasai Telkomsel dan Indosat secara tidak langsung.

TEMASEK Holdings Pte Ltd, perusahaan induk yang mengontrol kepemilikan Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd (STT) dan Singapore Telecommunications Ltd (Sing- Tel)?dua badan usaha yang memiliki Indosat dan Telkomsel dinyatakan telah melanggar UU No 5/1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Melalui kepemilikan silang yang canggih, perusahaan- perusahaan di atas secara leluasa memiliki kekuatan monopoli dalam industri telekomunikasi yang antara lain ditunjukkan oleh kemampuannya mengontrol harga pasar (price leadership). Menurut KPPU, pemerintah ternyata tak mampu mengendalikan dampak negatif yang muncul dari kepemilikan silang itu. Menurut perkiraan KPPU, konsumen industri seluler dirugikan sekitar Rp30 triliun untuk periode 2003?2006. Komentar tentang mahalnya biaya-biaya telepon di Indonesia sebenarnya sudah lama kita dengar. Konon, biaya telepon yang kita bayar merupakan salah satu yang termahal di dunia. Biaya produksi untuk layanan berita singkat (sms) dihitung hanya jatuh sekitar Rp75/sms, tetapi dijual dengan harga rata-rata Rp300/sms. Pokoknya, konsumen Indonesia membayar lebih mahal untuk layanan telekomunikasi dibanding konsumen di negara lain yang pendapatan per kapitanya jauh lebih tinggi.

Adanya kemampuan pengendalian yang dilakukan oleh Kelompok Usaha Temasek  terhadap Telkomsel dan Indosat menyebabkan melambatnya perkembangan Indosat sehingga tidak efektif dalam bersaing dengan Telkomsel  yang berakibat tidak kompetitifnya pasar industri seluler di Indonesia.

Perlambatan perkembangan Indosat ditandai dengan pertumbuhan BTS yang secara  relatif menurun dibanding dengan Telkomsel dan XL yang merupakan dua operator besar lainnya di Indonesia. Uniknya, tak seperti kasus ekstradisi, DMC, pasir laut, dan privatisasi  Indosat, yang semuanya melibatkan pihak Singapura, mayoritas reaksi di dalam negeri, termasuk beberapa petinggi di pemerintahan, cenderung  menyudutkan KPPU. Mereka menyayangkan putusan KPPU karena dipandang bakal merusak iklim investasi, terutama terkait dengan  kepastian usaha.

Adam Smith telah menulis dalam  the great enemy to good management. Monopoli harus dicermati karena dua hal,yaitu menciptakan transfer kekayaan dari konsumen ke produsen (menggerogoti daya beli konsumen), dan menyebabkan sebagian dari kue kesejahteraan sosial masyarakat hilang (deadweight loss).

Pandangan Smith agak berbeda dari pandangan ekonom besar lainnya, yaitu Joseph Schumpeter. Menurut Schumpeter, kemajuan suatu industri amat ditentukan oleh anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) yang tersedia. Semakin besar keuntungan perusahaan, semakin tinggi alokasi untuk anggaran R&D.Itu sebabnya industri dengan derajat monopoli tertentu dari para pelakunya dibutuhkan agar industri tersebut dapat melahirkan inovasi baru sebagai hasil dari kegiatan R&D-nya. Tak ada perusahaan atau pengusaha yang tidak bercita-cita memiliki kekuatan monopoli. Kekuatan monopoli adalah kekuatan untuk menentukan harga pasar (price maker), bukan sekadar mengikuti harga yang berlaku di pasar (price taker). Monopoli memperoleh keuntungan maksimal dengan menetapkan harga jual yang lebih besar dari biaya marginal (marginal cost) untuk menghasilkan produk yang dijualnya. Untuk memiliki kekuatan monopoli tersebut segala cara bisa dilakukan, dari yang sembunyisebunyi (covert) sampai yang terang- terangan (overt).Yang paling terbuka adalah bila sejumlah perusahaan mendeklarasikan adanya kartel,yang merupakan wadah untuk secara bersama-sama menentukan harga jual dan kuota produksi.

dari berbagai sumber

Widodo judarwanto 

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646

email : judarwanto@gmail.com

http://korananakindonesia.wordpress.com/

 

 

 

 

Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Filed under: 1-PENDIDIKAN, 1.l.Pendidikan kebangsaan, 5-TEKNOLOGI, 5.a.Teknologi Informasi-Internet, 5.f.Teknologi Komunikasi, opini, Opini Anak Remaja Tagged: Kedaulatan Informasi Telekomonikasi Indonesia Di bawah Ketiak Singapura


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: