Posted by: rajaplagiat | August 20, 2010

Waspadai Gangguan Pendengaran Pengguna Gadget Musik Pada Remaja

Waspadai Gangguan Pendengaran Pengguna Gadget Musik Pada Remaja

Kenikmatan hiburan audio melalui gadget canggih telah melenakan remaja di dunia. Dibalik kenikmatan musik tersebut ternyata mengancam bencana kesehatan yang cukup serius. Dalam penelitian terakhir menunjukkan bahwa penggunaan alat teknologi canggih yang menyediakan hiburan multi media musik ternyata beresiko meningkatkan gangguan pendengaran pada remaja di dunia.

Seperti yang dilansir oleh sciencedaily,com telah terungkap dalam sebuah penelitian bahwa penggunaan  iPod, MP3 player dan lebih sering mendengarkan live music adalah penyebab meningkatnya jumlah gangguan pendengaran pada remaja. Jumlah remaja yang mengalami masalah pendengaran sudah naik hampir sepertiga dalam 20 tahun terakhir. Data dasar sebuah penelitian menyebutkan antara tahun 2005 dan 2006, didapatkan satu dari lima remaja di Amerika Serikat mengalami beberapa jenis kehilangan pendengaran.

Seseorang yang mengalami gangguan pendengaran yang belum terlalu berat, kadang tidak begitu menyadari akan masalah yang sedang dihadapi. Ternyata kebiasaan mendengar musik yang keras, dapat mengakibatkan kemampuan pendengaran menjadi menurun. Dan bila tidak cepat ditangani, gangguan pendengaran akan bertambah berat dan bukannya tidak mungkin, suatu saat akan terjadi kehilangan pendengaran secara total. Untuk mendeteksi adanya gangguan pendengaran dapat mengenali secara dini tanda dan gejala gangguan pendengaran awal. Selanjutnya bila dicurigai  terjadi gangguan pendengaran dapat melakukan serangkaian pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter spesialis THT (Telinga, Hidung, Tenggorok). Tapi sebenarnya ada beberapa tanda waspada yang dapat ditemukan sendiri pada saat terjadi gangguan pendengaran.

Journal of the American Medical Association mengungkapkan bahwa jumlah remaja yang mengalami gangguan pendengaran telah meningkat hampir sepertiga dalam 15 tahun terakhir. Laporan yang juga dapat dilihat di Reuters Life itu melaporkan hasil sebuah penelitian yang membandingkan survei-survei nasional sejak awal tahun 1990-an sampai pertengahan tahun 2000-an dan melibatkan beberapa ribu remaja dari usia 12 tahun sampai 19 tahun.

Dalam survei pertama, sebanyak 15 persen remaja diketahui mengalami penurunan kemampuan pendengaran sebanyak beberapa tingkat oleh beberapa staf terlatih. Tetapi sekitar 15 tahun kemudian jumlah itu meningkat hampir sepertiga, mendekati nilai 20 persen atau dengan kata lain menimpa satu dari lima remaja di AS. “Itu sama dengan jumlah remaja di setiap kelas yang akan mengalami masalah pendengaran,” kata Dr Josef Shargorodsky dari Brigham and Women’s Hospital, Boston, AS. “Para remaja menganggap remeh seberapa pun kerasnya suara yang mereka dengar. Sering satu individu tidak menyadarinya, tetapi bahkan kehilangan pendengaran sedikit saja akan membuat perbedaan dalam perkembangan bahasa dan proses belajar,” lanjut Shargorodsky. 

Penelitian itu menemukan bahwa kebanyakan kasus gangguan pendengaran itu menimpa satu telinga saja, tetapi gangguan itu akan semakin memburuk.  Pada walnya  gangguan itu memang tampak ringan, tetapi satu dari 20 remaja ternyata memiliki masalah dalam pengucapan kata, meningkat sebanyak 50 persen sejak survei pertama digelar.

Melihat data yang ada, Shargorodsky mengaku terkejut dengan penemuan itu. Menurutnya, perawatan medis yang sesuai bagi infeksi telinga, sebagai salah satu penyebab utama dari kerusakan pendengaran, secara teoretis seharusnya bisa mengurangi jumlah penderita itu.  Namun demikianpara peneliti pun belum bisa menentukanalat gadget mana sebagai penyebab atau menentukan satu perangkat saja seperti iPod sebagai penyebab masalah itu.  Peneliti menilai alasan meningkatnya jumlah remaja yang menderita gangguan pendengaran belum jelas karena ketika ditanyai tentang sumber kebisingan, misalnya dari senjata api, di tempat kerja, atau tempat rekreasi, tidak ada jawaban menandakan adanya perubahan yang signifikan. Tetapi bagi Shargorodsky, beberapa orang belum tentu menilai musik yang mereka dengarkan dari pemutar musik seperti MP3 player, misalnya, sebagai kebisingan. “Kami sebelumnya sudah tahu bahwa sangat susah untuk menanyakan orang-orang dari kelompok umur seperti itu tentang kebisingan yang mereka terima. Mereka meremehkannya,” ujar Shargorodsky.  “Beberapa faktor berisiko, seperti suara keras yang diterima ketika mendengarkan musik, mungkin faktor penting bagi remaja,” bunyi salah satu kesimpulan hasil penelitian itu.

Pada jurnal tersebut disebutkan bahwa remaja wanita ditemukan secara signifikan cenderung lebih sedikit terpengaruh. Sedangkan orang-orang di bawah garis kemiskinan ditemukan beresiko tinggi. Sebuah tulisan dalam jurnal JAMA mengatakan: “Kehilangan pendengaran adalah gangguan sensoris umum, dan akan mempengaruhi puluhan jutaan orang dari segala usia di Amerika Serikat.”

Peneliti Josef Shargorodsky, dari Brigham and Women’s Hospital, Boston, memeriksa dua database untuk melihat apakah ada tingkat perbedaan gangguan pendengaran dibandingkan dalam jangka waktu yang berbeda juga. Antara 1988 dan 1994, sekitar 14,9 persen dan masih lazim, tetapi sekarang naik menjadi 19,5 persen dalam studi antara 2005 dan 2006 dari anak-anak berumur 12-19 tahun. Sebagian besar remaja yang kehilangan pendengaran masih dalam tahap ringan, walaupun jumlah kasus kehilangan pendengaran ringan atau buruk akan menjadi lebih tinggi dari 77 persen dalam survei nanti.

Sedangkan Alison Grimes dari klinik audiologi Ronal Reagan-UCLA Medical Center di Los Angeles, AS, mengatakan meski perangkat-perangkat musik itu belum tentu menjadi penyebab rusaknya pendengaran, gagasan untuk mengecilkan volume musik dan mengurangi penggunaan perangkat seperti iPhone sangat bagus. Jumlahnya kini meningkat sekitar 30 persen hingga 6,5 juta lebih dari dalam survei sebelumnya yang dilakukan antara tahun 1988 dan 1994. Penyebab utama kenaikan tersebut tidak diketahui, walaupun para ilmuwan meyakini eksposur terhadap suara keras, seperti suara musik yang diperbesar.

Gangguan Pendengaran Karena Polusi Suara

Polusi suara di sekitar manusia ternyata mengandung efek bising yang dapat mengganggu pendengaran. Efek bising terhadap pendengaran dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu trauma akustik, perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung sementara (noise-induced temporary threshold shift) dan perubahan ambang pendengaran akibat bising yang berlangsung permanen (noise-induced permanent threshold shift). Paparan polusi suara dengan  bising intensitas tinggi secara berulang dapat menimbulkan kerusakan sel-sel rambut organ Corti di telinga dalam. Kerusakan dapat terlokalisasi di beberapa tempat di cochlea atau di seluruh sel rambut di cochlea.

Pada trauma akustik, cedera cochlea terjadi akibat rangsangan fisik berlebihan berupa getaran yang sangat besar sehingga merusak sel-sel rambut. Namun pada pajanan berulang kerusakan bukan hanya semata-mata akibat proses fisika semata, namun juga proses kimiawi berupa rangsang metabolik yang secara berlebihan merangsang sel-sel tersebut. Akibat rangsangan ini dapat terjadi disfungsi sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran sementara atau justru kerusakan sel-sel rambut yang mengakibatkan gangguan ambang pendengaran yang permanen.

Trauma Akustik
Pada trauma akustik terjadi kerusakan organik telinga akibat adanya energi suara yang sangat besar. Efek ini terjadi akibat dilampauinya kemampuan fisiologis telinga dalam sehingga terjadi gangguan kemampuan meneruskan getaran ke organ Corti. Kerusakan dapat berupa pecahnya gendang telinga, kerusakan tulang-tulang pendengaran, atau kerusakan langsung organ Corti. Penderita biasanya tidak sulit untuk menentukan saat terjadinya trauma yang menyebabkan kehilangan pendengaran.

Noise-Induced Temporary Threshold Shift

Pada keadaan ini terjadi kenaikan nilai ambang pendengaran secara sementara setelah adanya pajanan terhadap suara dan bersifat reversibel. Untuk menghindari kelelahan auditorik, maka ambang pendengaran diukur kembali 2 menit
setelah pajanan suara. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pergeseran nilai ambang pendengaran ini adalah level suara, durasi pajanan, frekuensi yang diuji, spektrum suara, dan pola pajanan temporal, serta faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, status kesehatan, obat-obatan (beberapa obat dapat bersifat ototoksik sehingga menimbulkan kerusakan permanen), dan keadaan pendengaran sebelum pajanan.

Noise-Induced Permanent Threshold Shift
Data yang mendukung adanya pergeseran nilai ambang pendengaran permanen didapatkan dari laporan-laporan dari pekerja di industri karena tidak mungkin melakukan eksperimen pada manusia. Dari data observasi di lingkungan industri, faktor-faktor yang mempengaruhi respon pendengaran terhadap bising di lingkungan kerja adalah tekanan suara di udara, durasi total pajanan, spektrum bising, alat transmisi ke telinga, serta kerentanan individu terhadap kehilangan pendengaran akibat bising.

Gejala Gangguan Pendengaran

The National Institute on Deafness and Other Communications Disorders mengeluarkan sejumlah panduan akan adanya gangguan pendengaran. Seseorang dicurigai kemungkinan mengalami gangguan pendengaran, bila ditemukan tiga atau lebih dari gejala-gejala berikut:

  • Sering meminta lawan bicara Anda untuk mengulang ucapan yang dikatakannya
  • Sering salah menjawab atau salah paham atas lawan bicara Anda
  • Sering mengalami kesulitan untuk memahami pembicaraan dengan wanita dan anak-anak, karena mereka berbicara dengan frekuensi yang lebih tinggi. Pada gangguan pendengaran yang disebabkan karena suara bising, penderita sering mengalami gangguan mendengar frekuensi tinggi pada awal gangguan pendengaran terjadi.
  • Sulit mengikuti pembicaraan pada saat dua orang atau lebih bicara pada saat yang sama
  • Mengalami masalah melakukan pembicaraan di telepon
  • Harus berkonsentrasi penuh untuk mengikuti dengan baik pembicaraan yang sedang berlangsung
  • Sulit mendengar saat berada dalam lingkungan yang bising
  • Orang mengeluh pada Anda karena suara televisi atau radio yang terlalu Anda keraskan
  • Merasa bahwa banyak lawan bicara Anda kelihatannya berbicara tidak jelas atau hanya bergumam

 

Pemeriksaan  Gangguan  pendengaran

  • Gangguan pendengaran yang terjadi akibat bising ini berupa tuli saraf koklea dan biasanya mengenai kedua telinga. Pada anamnesis biasanya mula-mula pekerja mengalami kesulitan berbicara di lingkungan yang bising, jika berbicara biasanya mendekatkan telinga ke orang yang berbicara, berbicara dengan suara menggumam, biasanya marah atau merasa keberatan jika orang berbicara tidak jelas, dan sering timbul tinitus. Biasanya pada proses yang berlangsung perlahan-lahan ini, kesulitan komunikasi kurang dirasakan oleh pekerja bersangkutan; untuk itu informasi mengenai kendala komunikasi perlu juga ditanyakan pada pekerja lain atau pada pihak keluarga.
  • Pada pemeriksaan fisik, tidak tampak kelainan anatomis telinga luar sampai gendang telinga. Pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan perlu dilakukan secara lengkap dan seksama untuk menyingkirkan penyebab kelainan organik yang menimbulkan gangguan pendengaran seperti infeksi telinga, trauma telinga karena agen fisik lainnya, gangguan telinga karena agen toksik dan alergi. Selain itu pemeriksaan saraf pusat perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya masalah di susunan saraf pusat yang (dapat) menggangggu pendengaran.
  • Pemeriksaan dengan garpu tala (Rinne, Weber, dan Schwabach) akan menunjukkan suatu keadaan tuli saraf: Tes Rinne menunjukkan hasil positif, pemeriksaan Weber menunjukkan adanya lateralisasi ke arah telinga dengan pendengaran yang lebih baik, sedangkan pemeriksaan Schwabach memendek.
    Untuk menilai ambang pendengaran, dilakukan pemeriksaan audiometri. Pemeriksaan ini terdiri atas 2 grafik yaitu frekuensi (pada axis horizontal) dan intensitas (pada axis vertikal). Pada skala frekuensi, untuk program pemeliharaan pendengaran (hearing conservation program) pada umumnya diwajibkan memeriksa nilai ambang pendengaran untuk frekuensi 500, 1000, 2000, 3000, 4000, dan 6000 Hz. Bila sudah terjadi kerusakan, untuk masalah kompensasi maka dilakukan pengukuran pada frekuensi 8000 Hz karena ini merupakan frekuensi kritis yang menunjukkan adanya kemungkinan hubungan gangguan pendengaran dengan pekerjaan; tanpa memeriksa frekuensi 8000 Hz ini, sulit sekali membedakan apakah gangguan pendengaran yang terjadi akibat kebisingan atau karena sebab yang lain.
  • Pemeriksaan audiometri ini tidak secara akurat menentukan derajat sebenarnya dari gangguan pendengaran yang terjadi. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti lingkungan tempat dilakukannya pemeriksaan, tingkat pergeseran ambang pendengaran sementara setelah pajanan terhadap bising di luar pekerjaan, serta dapat pula permasalahan kompensasi membuat pekerja seolah-olah menderita gangguan pendengaran permanen. Prosedur pemeriksaan lain untuk menilai gangguan pendengaran adalah speech audiometry, pengukuran impedance, tes rekruitmen, bahkan perlu juga dilakukan pemeriksaan gangguan pendengaran fungsional bila dicurigai adanya faktor psikogenik.

Lihat Video Gangguan Pendengaran Pada Remaja :

Referensi

 

dr Widodo Judarwanto SpA, pediatrician

KORAN ANAK INDONESIA, Yudhasmara Publisher 

Jl Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta PusatPhone : (021) 70081995 – 5703646 

email : judarwanto@gmail.com  http://korananakindonesia.wordpress.com/ 

Copyright 2010, Koran Anak Indonesia  Network  Information Education Network. All rights reserved

Filed under: 1-PENDIDIKAN, 1.c.Biologi, 3-KESEHATAN, 3.a.Kesehatan Anak, 3.b.Kesehatan Remaja, BERITA TERKINI Tagged: Waspadai Gangguan Pendengaran Pengguna Gadget Musik Pada Remaja


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: